Tampilkan postingan dengan label air terjun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air terjun. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

Curug Cigentis, Objek Wisata Andalan Kabupaten Karawang


Apa yang anda pikirkan saat mendengar nama  Karawang?? Goyang?? Sawah?? Padi?? Atau puisi karya Chairil Anwar ( Karawang Bekasi)??  Yap tepat sekali,kota tempat saya lahir ini memang terkenal dengan julukan kota padi dan goyang karawang tentunya. Selain itu, karawang juga memiliki  potensi wisata yang cukup beragam, dari mulai wisata alam,wisata budaya,wisata sejarah dan wisata religi juga ada di sini.

 
(sumber gambar: www.tentangkarawang.blogspot.com)
Sebagai penduduk lokal yang lahir dan di besarkan di salah satu perkampungan di daerah karawang,tentu sedikit banyak saya pernah mengunjungi  beberapa objek wisata di kota ini. Sebut saja pantai tanjung baru,pantai pisangan,ataupun beberapa air terjun (curug) yang ada di daerah loji. Objek wisata di sini memang tak terlalu terkenal jika di bandingkan dengan objek wisata yang berada di daerah lain,namun keindahanya tak kalah dengan daerah lain.  Tapi sayang, banyak orang  yang belum mengetahui kalau karawang memiliki beberapa objek wisata yang sayang untuk di lewatkan,mengingat  jarak karawang  yang cukup dekat dengan ibu kota jakarta ( hanya sekitar 1,5  jam saja melalui jalan tol jakarta-cikampek).
Kali ini saya akan membahas tentang air terjun (curug) yang  menjadi primadona di kota ini,karena kebetulan baru-baru ini  saya berkesempatan  mngunjunginya untuk kesekian kali. Namanya curug cigentis, letaknya  berada di selatan karawang, tepatnya di desa mekarbuana  sekitar 35 KM dari pusat kota karawang. Transportasi umum menuju objek wisata ini bisa di bilang agak susah, karena  kita harus  berganti beberapa kali angkutan umum untuk sampi di sana. Oleh karena itu,  saya selalu mengunjunginya mengunakan sepeda motor, karena lebih hemat dan lebih cepat. Tapi jangan kawatir , buat yang mau mengunjunginya dengan kendaraan umum masih bisa kok, Saya akan jelaskan caranya nanti di ahir cerita.
View sepanjang perjalanan
Pukul 8 pagi, saya sudah siap-siap dengan motor yang akan membawa  saya menikmati keindahan curug cigentis hari ini. Setelah semua di rasa ok, saya memacu kendaraan  meninggalkan rumah, membelah jalanan karawang yang cukup sibuk pagi itu. Dari rumah,saya arahkan kendaraan saya menuju daerah Badami,karena daerah ini bisa di bilang gerbang menuju kawasan curug-curug yang ada di karawang.  Sepanjang perjalanan dari badami menuju daerah loji,kita akan di suguhi pemandangan yang luar biasa cantik,hamparan sawah yang hijau (beberapa ada juga yang sudah mulai mengunin)  akan memanjakan mata kita,di tambah lagi udara yang terasa semakin  sejuk ketika mendekati kawasan loji.  Setelah berkendara kurang lebih 1,5 jam, saya sampai di gerbang retribusi menuju kawasan loji (desa mekarbuana).  Di sini setiap kendaraan yang memasuki kawasan loji  di pungut biyaya sebesar Rp. 5000/ motor dan Rp.2500/ orang untuk pengendara mobil. Selesai dengan urusan retribusi, saya kembali memacu motor karena saya masih harus berkendara kurang lebih sejauh 2 Km dengan medan yang cukup menantang. Karena jalanan yang saya lewati sekarang  mulai sedikit  terjal, namun memiliki suasana yang sangat asri karena sudah berupa  kawasan hutan dan terdapat pula sungai besar dengan batu-batuan yang bertebaran di sepanjang alirannya. Di kawasan ini juga terdapat kampung wisata curug cigentis yang memiliki fasilitas water park mini (waterboom), outbound, Restauran,Villa,ATV, untuk memanjakan keluarga anda. (keterangan lebih lanjut mengenai kampung wisata bisa mengunjungi web resminya   http://www.kampungwisata.net )
kampung wisata cigentis (sumber gambar :http://www.kampungwisata.net)


Setelah mengendarai motor selama 10 menit, saya sampai di ahir jalan yang bisa di lewati oleh kendaraan, di sini saya menitipkan motor di rumah warga yang di pungsikan menjadi tempat penitipan motor/mobil. Dari sini saya harus berjalan sejauh 3 KM menuju curug cigentis dan atau 500 M menuju curug Bandung.
curug bandung,(sumber gambar: www.jabarprov.go.id)
Perjalan menuju curug cigentis bisa di bilang cukup melelahkan buat mereka yang belum terbiasa tracking, tanjakan-tanjakan panjang dengan kemiringan yang cukup terjal di jamin membuat anda kehabisan nafas. Tapi jangan khawati, karena sepanjang perjalan anda akan di suguhi pemandangan yang luar biasa cantik. Perbukitan hijau,gemericik air,kicauan burung dan suara serangga huta akan menemani perjalanan anda. Di tambah lagi udara yang bersih dan sejuk akan memanjakan paru-paru anda pastinya.
Sebaiknya anda mengunakan alas kaki yang nyaman dan membawa cukup bekal air minum. Karena  meskipun kita bisa menemui beberapa penjual air minum sepanjang perjalanan,  tapi harganya cukup mahal, ya bisa di mengerti karena mereka perlu tenaga exstra untuk membawa makanan dan minuman ke sini. 

Setelah berjalan selama 30 menit,saya sampai di pintu masuk menuju kawasan curug. Untuk memasuki kawasan curug cigentis, saya harus membayar tiket masuk sebesar Rp.8000 / orang.  Beberapa meter setelah gerbang pintu masuk, saya disambut jembatan bambu yang menyebrangi aliran air sungai yang bersumber dari curug. Dari sini, suara gemuruh air curug sudah sangat terdengar jelas. Dan setelah beberapa meter melangkah, terlihatlah kemegahan curug cigentis dengan debit air yang mengalir cukup deras siang itu. Walau pun perlu perjuangan keras menuju sini, tapi semua rasa lelah itu lenyap seketika saat cipratan air membasahi tubuh. Sungguh sebuah mahakarya tuhan yang luar biasa indah. Sebenarnya saya sudah berkali-kali  mengujungi air terjun ini, namun pesonanya tak pernah membuat saya bosan.

Jembatan Bambu
Curug Cigentis


Fasilitas di objek wisata  ini bisa di bilang cukup memadai, karena sudah terdapat cukup banyak warung yang bisa memuaskan rasa lapar anda setelah lelah berjalan. Ada juga sarana kamar ganti serta musolah, jadi buat anda  yang mau berbasah-basahan atau menunaikan solat  tidak usah kawatir.
Setelah cukup puas bermain air dan mengisi perut yang memang sudah keroncongan. Saya putuskan untuk mengahiri kunjungan saya hari ini dan kembali turun menuju parkiran motor. Buat anda yang sedang berkunjung ke karawang, tidak ada salahnya memasukan curug cigentis dalam daftar tempat yang harus anda kunjungi selama kunjungan anda di karawang.


sumber gambar www.bismania.com
Ohnya  Buat yang ingin mengunjungi curug ini namun tidak memiliki kendaraan pribadi,bisa mengandalkan angkutan umum (mobil elf) yang  melayani trayek karawang (gor panatayuda) – Pasar Loji dengan tarif berkisar Rp.10.000 / orang dan  lama perjalanan sekitar 2,5-3 jam tergantung kondisi lalu lintas. Buat yang berada di luar wilayah karawang (khususnya  jakarta) bisa menggunakan  bis umum  (agra mas / warga baru) dari terminal Kampung rambutan / Tanjung Priok menuju karawang (tarifnya berkisar Rp.8000-11.000) ,dan minta di turunkan di daerah badami ( 500 meter setelah keluar pintu  gerbang tol karawang barat) . Dari badami tinggal menyambung mengunakan angkutan elf menuju pasar loji.  Sesampainya di pasar loji,anda harus berganti angkutan menggunakan ojek menuju kawasan loji (parkiran motor) dengan tarif berkisar Rp.10.000-15.000 (tergantung cara anda menawar). Dari kawasan loji (parkiran motor) anda tinggal berjalan kaki seperti yang saya lakukan. Ada baiknya anda  meminta no hp tukang ojek agar anda bisa minta di jemput saat anda akan pulang nanti.Perlu anda ketahui juga kalau  mobil elf hanya beroprasi dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore saja.  Jika anda kemalaman anda bisa menumpang tidur di pemukiman warga / menyewa villa di kampung wisata. Atau jika ingin lebih berhemat lagi anda bisa membuka tenda di kawasan ini, pasti akan sangat menyenangkan bukan. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak  mengunjungi air terjun ini bukan.
Happy traveling :)

Jumat, 27 Januari 2012

Sipiso-piso: Sebuah Mahakarya Tuhan yang Luar Biasa

Setelah puas berkeliling taman alam lumbini, saya kembali menuju simpang tugu jeruk karena akan melanjutkan perjalanan ke air terjun sipiso-pison. Dari simpang ini tidak ada angkutan umum yang langsung  ke sipiso-piso, jadi  harus transit dulu di terminal kabanjahe dan berganti angkutan yang ke air terjun sipiso-piso (angkutan yang ke desa tongging) . Di simpang jeruk saya menunggu angkutan yang sama seperti yang saya gunakan saat ke sini (elf  sumatra transport / murni) yang  ke arah kabanjahe. Tapi sayang,angkutan yang saya tunggu tak kunjung ada,dan sekalipun ada kondisinya sudah penuh sehingga angkutan nya tidak berhenti. Tiba-tiba  ada bapak-bapak yang mendekati saya dan bertanya tujuan saya,setelah saya memberi tahu tujuan saya,bapak itu  menunjuk sebuah angkot yang sedang berhenti (ngetem) tidak jauh dari tempat saya berdiri dan beliau berkata bahwa angkot itu juga akan ke kabanjahe. Dia menyarankan saya agar naik angkot itu saja,karena sumatra transport (sutra)/murni  tidak akan berhenti di sini. Untuk memastikan informasi si bapak,saya mendekati angkot dan bertanya pada sopirnya.  Setelah mendapat ke pastian dari sopir bahwa benar angkot ini ke kabanjahe,saya pun menaiki angkot itu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar  40 menit dan membayar 7k, saya sampai juga di terminal kabanjahe. Sesaat sebelum saya turun dari angkot ,saya  sempat menanyakan pada supir tentang  angkot yang ke desa tongging. Pak sopir angkot menahan saya agar tidak turun di terminal, karena dia akan mengantarkan saya ke pangkalan angkot yang akan ke desa tongging (pangkalan angkot nya di luar terminal). Sesampainya di pangkalan angkot yang akan ke desa tongging,tidak ada tanda-tanda mobil angkot  yang akan segera berangkat. Sepertinya penumpang angkot dari kabanjahe ke desa tongging sangat langka, jadi para sopir itu asik tertidur di mobilnya masing-masing. Saya mencoba memastikan ke seorang bapak-bapak (calo) yang sedang duduk di kursi depan warung, apakah benar ini angkutan ke tongging? bapak itu bilang benar dan saya harus menunggu sampai ada beberapa penumpang, baru mobil ini akan berangkat. Sekitar 15 menit menunggu, ada ibu-ibu yang menghampiri saya dan bertanya tentang mobil yang akan ke silalahi, saat itu saya bingung dan tak bisa jawab apa-apa. Namun si bapak tadi membenarkan dan si ibu juga di suruh menunggu penumpang lain, kemudian datang beberapa orang lagi (bapak-bapak) yang juga akan ke silalahi. Sambil menunggu mobil penuh,  terjadilah obrolan yang penuh roming nasional ( karena terkadang saya atau pun lawan bicara saya  tidak mengerti maksud dari kata-kata yang kami lontarkan) antar saya dan beberapa orang yang juga sedang menunggu.  Sudah lebih dari 45 menit saya menunggu, namun tak ada tanda-tanda mobil akan segera berangkat.

parkiran di sipiso-piso
Karena tujuan saya ke sipiso-piso, saya di ajak supir satu lagi untuk naik di mobilnya yang akan ke tongging (tidak sampai desa silalahi). Saya naik seorang diri karena semua orang yang menunggu bareng saya,mereka akan ke silalahi bukan ke tongging. Awalnya saya tidak mengerti di mana letak sipiso-piso,desa tongging atau pun desa silalahi. Tapi setelah mendapat penjelasan dari supir angkot, barulah saya paham kalo di tarik garis lurus maka kita akan melewati sipiso-piso,tongging,barulah  silalahi, baik tongging maupun silalahi semunya berada di pesisir danau toba. Perjalanan seorang diri di dalam angkot cukup bikin nyali saya ciut dan menimbulkan banyak tanya. Kok supirnya mau mengantar saya seorang diri? Kok supirnya gak nunggu mobilnya penuh oleh penumpang? Jangan-jangan saya mau di rampok terus di bunuh dan jasat nya di buang ke jurang ?  jangan-jangan nanti saya di suruh bayar mahal karena hitunga nya carter angkot ? jangan-jangan....? jangan-jangan..? sepanjang perjalanan otak saya terus berprasangka buruk sama sopir yang membawa saya seorang diri ke sipiso-piso *mana tampangnya serem bangat,heheh (maaf ya pak sudah seudon). Sampai ahir nya mobil berhenti di pertigaan merek (semacam pasar),dari sini  gerombolan ibu-ibu menyerbu mobil yang saya tumpangi dan membuatnya menjadi penuh sesak. Dari sini saya paham,rupanya pak sopir memang sudah di tunggu mereka(ibu-ibu yang naik di pertigaan merek) sehingga pak supir  senghaja mengosongkan mobilnya di kabanjahe. Suasana mobil yang tadinya sepi,sekarang berubah riuh dengan candaan para ibu-ibu ini. Ada beberapa dari mereka membawa cairan merah di dalam bekas kemasan air mineral gelas sambil mengunyah  pinang sampai bibirnya manjadi sangat merah * jujur, melihat cairan itu dan serabut buah pinang di mulut mereka membuat saya sedikit mual,hehe
Fyi: selain menggunakan angkot  ke sipiso-piso ada juga alternatip lain menuju sipiso-piso ,yaitu dari terminal kabajahe naik angkutan (sinar sepadan) tujuan pematang siantar nanti turun di  pertigaan merek dan melanjutkan perjalanan ke sipiso-piso menggunakan bentor (beca motor,kendaraan khas sumaetra utara)
air terjun sipiso piso
Setelah menempuh perjalanan selama 1jam, sekitar pukul 15:40 saya sampai di objek wisata air terjun sipiso-piso. Angkot yang saya tumpang mengantarkan saya langsung ke parkiran dan melewati gerbang retribusi tiket masuk ke sipiso-piso,jadi saya masuk sipiso-piso gratis, thank pak sopir. Oh ya, kalo kita naik bentor atau di turunkan  angkot sebelum gerbang masuk,maka kita harus membayar tiket masuk seharga 2k / orang.
 Setelah membayar 10k untuk ongkos angkot,pak sopir mengingatkan saya bahwa angkot yang ke tongging terahir sekitar pukul 6 sore dan saya harus berjalan sekitar 400m dari parkiran ke jalan raya (gerbang retribusi) jika ingin naik angkot yang ke tonnging. Sesampainya di parkiran,saya langsung berjalan ke pinggir jurang yang sudah di beri pembatas. Dari sini terhampar pemandangan yang bikin mata gak mau berkedip,bagai manan tidak ! di hadapan saya sekarang terdapat air terjun cantik yang jatuh anggun ke dasar jurang. Sementara di sisi kiri, danau toba sangat tenang menyambut dengan damai. Sebelum memutuskan untuk turun menuju air terjun,saya mampir dulu di warung muslim yang berjejer di sepanjang tempat parkir untuk mengisi perut yang sudah sangat keroncongan. Seporsi nasi goreng seharga 10k, ludes dalam beberapa menit *ini lapar atau rakus? hehe. Setelah menyantap nasi goreng,saya memilih untuk menyusuri  pagar pembatas. Sampai ahirnya saya tertegun melihat sebuah desa di tepi danau toba, dan saya mulai berpikir. Apakah itu desa tongging? Karena memang menurut cerita yang saya baca,desa tongging itu dekat dengan sipiso-piso dan letaknya persis di pinggir danau toba.
view desa tongging dari atas
 
Setelah puas menikmati view sipiso-piso dari atas sini,saya mulai menyusuri anak tangga yang akan membawa saya menuju dasar air terjun sipiso-piso. Perjalanan ke bawah sini tersedia jalan setapak berupa anak tangga yang di semen,tapi kondisinya memang sudah kurang terawat. Di beberapa jalan bahkan kita harus sedikit menerobos rimbun nya belukar yang menghalangi jalan setapak ini. perjalan menuruni anak tangga tidak terlalu cape meski dengan beban tas sekitar 8kg, sampai ahir nya saya sampai di sebuah pos yang sudah sangat memprihatinkan kondisinya (banyak tulisan gak jelas dan sangat kotor). Disini saya cukup lama berhenti dan menikmati indahnya sipiso-piso dari dekat. Sekitar 15 menit kemudian,saya kembali melangkah menyusuri anak tangga yang membawa saya semakin jauh ke bawah mendekati sipiso-piso. Namun langkah saya terhenti ketika saya melihat jam yang sudah menunjukan pukul 16:30 sore, Karena takut jika di teruskan berjalan ke bawah saya akan ke malaman dan ketinggalan angkutan yang ke tongging. Lagi pula saat itu sangat sepi, hanya ada saya saja yang sedang menuruni tangga sementara pengunjung lain hanya berjalan sampai pos saja.

 

Perjalanan ke atas jauh lebih berat dari pada perjalanan ke bawah,karena saya harus mendaki ratusan anak tangga yang telah membawa saya ke bawah sini. sempat beberapakali berhenti dan mengatur napas karena sudah sangat gak kuat *cemen banget neh saya,hehe. Ahirnya setelah perjuangan yang sangat melelahkan saya sampai di atas dan beristirahat di sebuah bangku yang menghadap langsung ke air terjun sipiso-piso. Cukup lama saya memandangi sipiso-piso dan angan saya melayang jauh ke masa lalu, mengingat kembali  bagai mana proses saya mengenal sipiso-piso. Dulu saya hanya mengenal sipiso-piso dari tayangan televisi saja dan sekarang saya bisa menginjakan kaki di sini dan melihat nya langsung dengan mata kepala saya sendiri. Terimakasih ya allah atas semua hal yang kau berikan pada ku,, :)  Alhamdulilah...



Setelah puas beristirahat, saya berjalan 
meninggalkan parkiran menuju pintu gerbang retribusi untuk menunggu angkutan yang akan membawa saya ke desa tongging...





Selasa, 08 November 2011

Air Terjun Benang Kelambu: ke Unikan di Kaki Rinjani


Hari ini adalah hari terahir saya di pulau lombok, setelah kemarin seharian bermain-main di pantai-pantai cantik di lombok selatan,hari ini saya akan mengunjungi air terjun di kaki gunung  rinjani. Awalnya saya akan mengunjungi air terjun sendang gile dan tiu kelep yang sangat terkenal itu. Namun karena terbentur waktu, ahirnya setelah dapat arahan dari mba yanti saya putuskan ke air terjun benang stokel dan benang kelambu di lombong tengah,dengan harapan saat sore hari saya masih bisa menikmati senja di malimbu.
view sepanjang perjalanan
Sekitar pukul 9 pagi perjalanan di mulai. Lagi, uda odra yang menemanani perjalanan saya, tentu dengan arahan  dari mba yanti yang sudah begitu hapal jalanan di lombok. Kami sangat bersemangat memulai perjalanan ini. Sepanjang perjalanan  menuju air terjun, saya bertemu dengan banyak sekali bangunan mesjid di pinggir jalan. Hampir setiap 1KM laju kami,kami bertemu dengan satu  mesjid yang ukuranya bisa di bilang besar. Dari sini lah saya tau bahwa lombok adalah pulau 1000 mesjid,keren kan....!
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari kota mataram,ahirnya kami sampai juga di lokasi ari terjun. Dengan membayar tiket masuk sebesar 5k buat dua orang + 1 speda motor,kami mulai menapaki jalan setapak yang sudah di semen. Menurut penjelasan penjaga pos tiket masuk,air terjun benang stokel dapat di tempuh dengan berjalan santai selama 5 menit, sementara air terjun benang kelambu dapat di tempuh selama  25 menit.

air terjun benang stokel
Selang berjalan beberapa menit, dari ke jauhan kami sudah dapat melhat air terjun benang stokel. Jalan yang tadinya datar sekarang  berubah menjadi sebuah turunan yang cukup curam dengan puluhan anak tangga. Ternyata kita sudah sampai di air terjun benang stokel,dan di sini terdapat du air terjun. Air terjun ini  tidak terlalu besar dengan debit air yang bisa di bilang relatip kecil. Saat itu Cuma ada kami ber dua di air terjun ini,pasilitas di sini juga kurang begitu terawat hal ini dapat terlihat dari rusaknya  bangunan  toilet umum.  Tapi di sini masih dapat kita temui para pedagang yang menjajakan aneka minuman dan  makanan ringan.

air terjun benang stokel
Setelah puas bermain-main di air terjun ini, perjalanan kami lanjutkan ke air terjun bengan kelambu yang ternyata bisa juga di tempuh dari jalur ini dengan menyusuri jalan setapak menembus hutan. Jalanan menuju benang kelambu  masih berupa jalan setapak  yang belum di semen,karena sebenarnya ini bukan jalan resmi menuju air terjun benang kelambu. Ini hanya sebuah jalan pintas menuju benang kelambu,sementara jalan yang resmi dapat di tempuh dengan jalur berbeda saat di pos masuk tadi. Namun jalan setapak ini banyak di pergunakan oleh pengunjung yang malas memutar arah kembali ke pos masuk. Sepanjang perjalanan kami di suguhi aneka keragaman hayati hutan,dari mulai monyet sampai lutung dapat kami temui di sini. Kami  sempat beberapa kali berpapasan dengan bule-bule yang baru selesai mengunjungi air terjun benang kelambu.
jalan ke air terjun benang kelambu
Setelah berjalan sekitar 20 menit,kita kembali bertemu dengan jalan setapak yang sudah di semen, dan lagi kami harus menuruni puluhan anak tangga yang jumlahnya jauh lebih banyak dari anak tangga sebelumnya.  Yang lebih parah lagi, jarak dari anak tangga ke anak tangga berikutnya sangat tinggi,bisa di bilang anak tangga ini tidak terlalu  bersahabat dengan masyarakat indonesia yang memiliki postur tubuh yang relatif kecil jika di banding dengan para bule.
tangga yang menyiksa kaki
 Setelah  lelah menuruni anak tangga, kami di hadapkan dengan sebuah air terjun yang sangat  luar biasa cantik. Air terjun ini sangat jauh berbeda dengan air terjun yang pernah saya lihat. Air terjun ini memanjang di sepanjang tebing dengan aliran air yang tipis(nampak seperti kelambu). Di sini kami tidak dapat melihat sumber air terjun tersebut,karena seluruh  atas permukanan tebing di selimuti tumbuhan rambat. Air muncul dari rimbunya tumbuhan rambat itu,menetes melalui akar dan daun tumbuhan tersebut. Suasana di sini sangat terasa lembab, karena banyaknya butiran air yang  melayang di udara. Saya pun mulai mendekat dan merasakan kesagaran air di sini.


air terjun benang kelambu

Setelah puas menikmati suasana di sini, kami kembali ke air terjun benang stokel dan beristiraha di salah satu warngu di sana. Kami sempat berbincang-bincang dengan ibu penjaga warung, dan dari beliaulah kami  tahu bahwa sesungguhnya air terjun benang stokel yang asli bukan ini. menurut si ibu,air terjun benang stokel yang asli sudah di tutup, karena jalurnya yang berbahaya di tambah lagi karena  adanya  pengunjung yang meninggal terjatuh  ke bawah air terjun. Air terjun benang stokel  sendiri merupakan air terjun yang unik, karen wisatawan yang berkunjung hanya bisa meliaht air terjun itu di atas air terjun itu sendiri, karena tidak ada akses jalan ke bawah air terjun itu.
 Lewat tengah hari, saya putuskan untuk kembali ke pos tiket masuk.  Di perjalana  kami melihat petunjuk arah menuju danau segara anak. Rupanya menurut penuturan penjaga tiket,itu adalah jalur pendakian gunung rinjani. Namu jalur pendakian ini kurang terkenal dan belum di resmikan meski sudah ada beberapa orang  yang mendaki rinjani dari sini.