Kamis, 18 Oktober 2012

Kembali ke Labuan Bajo




Hari ini  akan menjadi hari yang cukup melelahkan, pasalnya  kami akan menempuh perjalanan panjang melintasi sebagian daratan Flores,dari Ende ke LabuanBajo via darat. Beda seperti perjalanan Labuan Bajo – Ende yang kami tempuh beberapa hari (karena mampir ke beberapa daerah terlebih dahulu), kali ini kami akan melakukan perjalanan panjang itu secara langsung tanpa singgah di kota mana pun.
Pukul  6:30 kami harus cepat – cepat cekout dari penginapan, di depan hotel sudah terparkir  sebuah mobil travel yang menjemput kami. Untuk perjalanan kali ini kami memang senghaja menggunakan mobil travel yang harganya relatif lebih mahal (tapi harganya masih masuk akal) dari mobil elf  yang melayani rute sama. Hal ini kami lakukan semata karna tak ingin menyiksa badan di mobil elf  yang umurnya kebanyakan sudah ujur dan tentu saja tak nyaman dengan barang penumpang yang berjejalan, belum lagi udara yang pengap karena tidak menggunakan penyejuk udara (kebayang dong jika kami harus menggunakan elf ini selama lebih dari 14 jam ). Selain alasan itu, kami juga tak ingin repot haus ke terminal Ndao pagi – pagi untuk menunggu elf yang akan ke Labuan Bajo, belum lagi kami harus bersusah payah menawar harga agar tidak di patok harga tinggi. Nah Jika kami menggunakan travel, kami cukup duduk manis di penginapan dan mobil akan menjemput kami. Hehehe. Ini Travel yang kami gunakan berikut harganya.

Tarif travel Gunung mas


Jadwal, Alamat dan no telpon
Perlahan tapi pasti, mobil mulai meninggalkan kota Ende setelah sebelumnya menjemput beberapa penumpang lain. Hem...rasanya masih kurang waktu yang kami habiskan di kota ini, padahal masih banyak tempat yang ingin saya lihat dan datangi. Tapi semoga suatu saat bisa ke kota ini lagi dan di lanjut ke Kupang dan pulau Rote,, Amin. Di sebelah kiri kami kini terhampar laut luas dengan batuan pantai berwarna kehijauan. Semakin lama, garis pantai semakin memudar dan berubah menjadi daratan berbukit dengan tikungan – tikungan tajam khas daerah pegunungan. Mobil terus melaju, sementara saya sekarang sedang di buai mimpi. Tengah hari kami baru sampai di Bajawa, mobil terus melaju menuju Aimere. Di sini kami semua  berhenti untuk beristirahat di sebuah warung makan padang (padang lagi padang lagi, hehe). Puas mengisi rongga kosong di lambung, kami kembali melanjutkan perjalanan menju Ruteng. Beberapa penumpang turun di Aimere, sementara yang lain masih bersama kami melanjutkan perjalanan ke Ruteng.

Pukul 3.30 sore, kami berdua di turunkan di Ruteng sementara yang lain masih di mobil dan di antarkan ke alamat masing – masing. Awalnya agak kaget kenapa kami di turunkan di ruteng, tapi rupanya kami di turunkan tepat di depat kantor travel ini dan kami harus berganti mobil yang akan ke LabuanBajo (hanya kami berdua yang akan ke Labuan Bajo), mobil yang kami tumpangi tadi ternyata hanya melayani rute Ende-Ruteng. Udara sore hari di Ruteng yang dingin membuat perut kami keroncongan, kami pun mencari warung yang menjual cemilan tak jauh dari kantor travel tersebut. Pukul 4 sore setelah transit selama 30 menit, kami kembali menaiki mobil travel, kali ini dengan mobil yang berbeda dan supir serta penumpang yang berbeda pula. Dari sini kami masih harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam lagi. Kota Ruteng yang dingin dengan kabut  tipisnya  mulai menjauh. Ada yang menarik di kota ini selain udaranya yang dingin, yaitu sawah – sawah yang berundak seperti di Tegallang, Bali. Jika di tegallalang hanya ada satu, sementara di sini ada lebih dari 3 tempat sawah unik berundak. Selai itu, satu jam dari kota Ruteng, tepatnya di desa Cancar juga terdapat sawah berbentuk seperti jaring laba – laba, nah ini biasanya menjadi salah satu objek wisata yang harus di kunjungi jika menginap di kota Ruteng (sayang kami tak punya waktu untuk menikmati keunikanya). Kota ruteng juga menjadi tempat awal bagi siapa saja yang ingin menikmati keunikan rumah adat  di desa Wae Rebo yang sekarang lagi banyak menyedot perhatian para penjelajah.
Matahari mulai kembali pulang ke peraduanya, sinarnya yang lembut menyapa di balik pepohonan di sepanjang jala,udara dingin masih setia menemani perjalanan kami. Sekitar pukul 7 malam, mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah makan, seluruh  penumpang turun  untuk makan malam (sudah bisa di tebak apa yang kami makan, iya tentu saja masakan P.A.D.A.N.G , hahaha). Mobil kembali melaju lebih cepat, langit semakin gelap, dan semua orang tertidur pulas nampak kelelahan tak terkecuali saya. Saat mobil mulai mendekati LabuanBajo, semua orang di tanyai akan turun di mana, begitu pun kami. Berbekal informasi dari Jeje dan Andro saat di Riung, kami pun mengikuti jejak mereka menginap di penginapan kumuh “Restu Bundo”. Rasanya tidak berlebihan saat saya menyebutnya kumuh, karena keadaannya memang kumuh. Jeje dan Andro juga sudah mewanti – wanti akan keadaan penginapan ini, tapi apa boleh buat. Malam ini  kami tak punya pilihan lain untuk menginap di mana. Badan sudah terlalu cape dan waktu juga sudah larut malam. Harga yang di tawarkan cukup murah yaitu 50k / malam / 2 orang , kamar mandi di luar (ini harga setandar di labuanbajo) . Walaupun kami cekin berdua, tapi hanya saya saja yang tidur di kamar malam itu. Hendra pergi menemui temanya dan menginap di kosanya, sepertinya hendra gak tahan dengan keadaan penginapan ini, hahaha.

***
Bagai manapun kondisi penginapan ini , saya  tetap saja nyenyak tidur malam itu, mungkin karena kecapean atau memang saya yang doyan tidur,hehe. Pagi ini saya keluar kamar dan menyaksikan betapa ramainya di bawah (penginapan restu bundo ini ada di lantai 2 sebuah bangunan toko – toko pasar tradisional). Saya sempatkan melihat ke pasar kecil yang berada persisi di sebelah kiri penginapan, pasar ini lebih mirip sebuah pasar kaget dengan para pedangan yang menggelar daganganya di lapak seadanya, yang di jual di sini cukup lengkap namun di dominasi aneka makana laut kering (ikan asin). Di belakang bangunan ini (yang berbatasan dengan dermaga) juga  terdapat sebuah Tempat pelelangan ikan (TPI) yang sangat ramai pagi itu. Para nelayan bersama perahu – perahunya yang tertambat  sibuk mengangkut hasil melaut. Sementara di darat sudah banyak pembeli yang sibuk memilih dan memilah ikan segar. Melihat begitu banyak ikan di tambah lagi harganya yang menggiurkan, ingin rasanya membeli seember ikan segar buat orang di rumah. Sambil menyantap sarapan pagi, sebungkus nasi ayam seharga 5k, mata saya terus mengamati hiruk pikuk kegiatan di TPI. Saya juga melihat beberapa orang yang sedang menunggu kapal nelayan yang mereka tumpangi berangkat.  Kapal – kapal itu adalah kapal yang mengangkut penduduk dari dan ke pulau Komodo / Rinca (Bukan ke objek wisatanya, tapi ke perkampunganya). Di sebrang lautan terlihat pulau – pulau kecil yang menjadi landmark Labuan Bajo. Di tengah laut juga banyak kapal – kapal mewah yang membawa wisatawan menuju kawasan Taman Nasional Komodo.

Siang menjelang, hendra sudah kembali ke penginapan. kami langsung cek out dan berjalan ke kantor Kanawa Island Resort (Pulau Kanawa) yang akan kami singgahi dan menjadi  tempat kami menginap  malam ini, jaraknya tak terlalu jauh dari penginapan restu bundo, sekitar  500 meter ke arah pelabuhan (ke arah  Selatan). Sesampainya di kantor kanawa, kami langsung melapor kalau kami sudah melakukan pemesanan beberapa hari sebelumnya , dan kami di persilahkan menunggu bersama para pengunjung lain, sebelum ahirnya kami akan di berangkatkan menuju pulau surga,,
Kanawa....I’m Comeing......

12 komentar:

  1. Kalau untuk penginapan di Labuan Bajo, rekomen saya sih Mutiara Hotel 150 ribu / malam dobel bed. Kalau perjalanan ke Komodo, jgn lewatkan desa Komodo, yg hobi foto HI sgt disarankan. Salam ransel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...buat saya yg penting murah.. *gak blh lebih dr 50rb/ orang.. (kere sih)
      Btw thank info y :)

      Hapus
  2. Postingannya lebih dari cukup, untuk bikin pengen. Semoga cuaca lekas baik, dan segera menyusul ke labuhan bajo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke labuhan bajo,,,suasana di sana n pulau komodo sekarang pasti lagi menghijau :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Sama-sama mas, semoga bisa membantu :)

      Hapus
  4. Bsok petualang ptama ke labuan bajo..hotel yg okey buat backpacker cewek apa neh?secara sy single fighter menjelah labuan bajo ma ruteng..please infox..tq b4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa coba di penginapan pelangi kak, letaknya di sebelah lapangan bola deket bank NTT.

      Hapus
  5. Info yang bagus. Terima kasih.

    BalasHapus
  6. thank u untuk infonya.. Kalau menginap di pulau kenawa, range harganya berapaan ya mas? dan bisa book dari mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dulu dari 75rb - 350rb / malam
      bisa di cek di web mereka mba,, tp aku lupa web ya...coba aja cari di google kanawa resort :)

      Hapus
  7. Halo mas,

    Mau tanya... Berapa biaya dan lama perjalanan (darat) dari labuan bajo ke ende ya?
    Makasi sebelumnya hehehhehee

    BalasHapus