Selasa, 02 Oktober 2012

Kampung Adat Bena, Sebuah Warisan dari Masa Lalu

Dinginnya suhu bajawa di pagi hari, membuat saya enggan keluar dari dalam selimut.  Tapi alaram yang  terus meraung – raung memaksa saya menepati janji pada sebuah jadwal yang  sudah tersusun. Jadi dengan berat hati saya  harus rela meninggalkan hangatnya selimut. Hari ini saya dan hendra berencana mengunjungi desa adat yang  terkenal di bajawa, yaitu desa adat wogo dan desa adat Bena. Selain 2 objek wisata tersebut, di bajawa juga masih terdapat objek wisata lainnya di antaranya pemandian air panas Manggeruda(soa), kawah Wawomuda, dan air terjun Ogi. Namun karena kami hanya  memiliki waktu setengah hari, jadi kami hanya bisa mengunjungi kampung adat saja.
Sembari menunggu frater selesai ibada, kami sempatkan dulu untuk sarapan (nyeduh mie instan  cup yang kami bawa). Saat perut sudah terisi dan para frater selesai  ibadah kami pun berpamitan dan memberi sedikit uang  sebagai tanda ucapan terimakasih. Dari biara, kami berjalan kaki  menuju pusat keramaian bajawa (pasar). Jaraknya cukup jauh, tapi tak apalah hitung – hitung olahraga pagi. Sepanjang jalan kami selalu mendapat senyuman ramah dan teguran hangat dari warga  bajawa yang sudah siap beraktifitas pagi itu. Satu hal yang sangat saya suka dari warga flores, mereka begitu ramah tersenyum pada kami. Dan satu hal yang unik di bajawa ini, karena hampir di setiap halaman  rumah terdapat kuburan keluarga yang di hias dengan ornamen – ornamen yang meriah, dan saat malam tiba kuburan itu di pasang lilin / lampu (makanya di sini tak ada pemakaman umum).
Inerie
Sesampainya di pasar, kami mencari  ojek yang akan kami pakai untuk mengunjungi  desa adat wogo dan bena. Semua ojek  menawarkan harga yang bisa di bilang cukup jauh dari dana yang kami anggarkan. Mereka meminta bayaran 100-150k / orang untuk seharian mengantar kami mengelilingi objek wisata di bajawa, atau 60k / orang untuk mengunjungi desa bena saja. Harga 60k/ orang untuk mengunjung desa bena saja saya pikir masih cukup mahal, sehingga kami tetap  ngotot minta 40k / orang untuk mengunjungi desa bena. Tapi mereka tetap tidak mau, sampai ahirnya ada satu ojek yang menawarkan motornya untuk kami pakai, kami hanya perlu membayar  80k untuk setengah hari  tanpa sarat apapun ( nama pemilik motornya pak fredy 081236292370) . Berbekal  motor sewaan dan meminta petunjuk arah dari  pak fredy (saya memintanya untuk  menggambarkan rute dari bajawa ke bena di sebuah  kertas), kami melaju meninggalkan kota bajawa menuju lereng gunung Inerie. Gunung inerie yang nampak agung dengan ujungnya yang runcing semakin jelas terlihat. Kami melaju menyusuri kaki gunung Inerie yang di penuhi dengan hutan bambu yang kadang berubah menjadi sebuah pegetasi semak yang belukar. Udara yang sejuk,  suara-suara  kumbang dan angin yang membelai ringan menemani perjalanan kami ke kampung bena. View perjalanan menuju bena sangat indah karena kita bisa melihat dengan jelas gunung inerie yang begitu polos berwarna coklat seolah tak ada tanaman yg tumbuh di kulit gunung inerie, rimbunnya pepohonan bambu yang berukuran jumbo juga menjadi pemandangan indah tersendiri, di tambah kelokan , tanjakan dan turunan curam juga menambah seru perjalanan ini.
I Love Bena...
Sekitar 1 jam berkendara menyusuri jalan di kaki gunung inerie, kami sampai di kampung adat bena. Setelah memarkir motor , kami menuju pos penyambutan tamu untuk menulis daftar kunjungan dan membayar seiklasnya. Di sana saya cukup kaget melihat jumlah kunjungan turis lokal yang begitu sedikit jumlahnya jika di banding kunjungan turis mancanegara (data tahun 2011 menunjukan jumlah turis mancanegara mencapai jumlah 2400 sekian  sementara turis domestik hanya 300 sekian, ckckckc). Dari pos, kami mulai berjalan menuju komplek kampung bena, di halaman kampung ini terdapat biji kopi dan coklat yang sedang di jemur. Berjalan lebih dalam ke komplek perkampungan, saya melihat deretan rumah-rumah tradisional yang di hiasi  ibu – ibu yang sedang menenun secara tradisional. Ada juga beberapa warga yang sedang melakukan aktivitas lain. Yang mencuri perhatian saya adalah anak – anak kampung bena yang begitu ramah, mereka menyapa turis –turis yang datang dengan senyum dan celoteh yang hangat seraya  tersipu malu – malu, ingin rasanya membagikan permen pada mereka, tapi sayang saya tidak membawanya (kalau ke sana bawa sekantung permenya dan bagikan ke mereka, pasti anda akan merasa senang melihat mereka tertawa riang). Semua warga bena juga sangat ramah, mereka selalu menyapa dan tersenyum pada setiap pengunjung yang datang (betapa ramahnya mereka, membuat saya begitu nyaman mengunjungi tempat ini, seolah – olah saya adalah bagian dari mereka).
Bena
Di ujung kampung ini terdapat tempat beribadah mereka (sebuah goa maria).  Tak hanya itu saja, di sini juga terdapat sebuah batu besar yang langsung berbatasan dengan jurang. View di sini sangat menakjubkan, di sisi jurang kita bisa melihat hamparan lembah dan barisan gunung , sementara di sisi lain kita bisa melihat indahnya kampung adat bena dengan deretan rumah tradisionalnya. Kampung adat bena ini berbentuk seperti sebuah perahu raksasa, karena konon asal mula desa bena adalah sebuah perahu yang terdampar kemudian lautan di sekitarnya kering serta berubah menjadi daratan seperti sekarang. Di desa ini juga masih terdapat meja – meja batu dan batuan megalitik tempat persembahan mereka saat upacara adat. Saat saya berjalan untuk pulang dan menyusuri bangunan kampung yang lain, saya bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang di gendong nenek nya. Dia menyapa saya dengan sangat lantang, karena tertarik saya coba mendekat dan mengajaknya bercanda. Kami cukup lama bercanda dan kami juga sempat ngobrol – ngobrol dengan nenek nya. Dari beliaulah saya tahu, kalau warga bena  menganut garis kekeluargaan perempuan  (Matrilinial). Jadi jika ada anak gadis mereka yang menikah makan calon suaminya harus ikut tinggal di kampung bena begitu pun sebaliknya jika anak mereka laki – laki menikah maka anak laki –laki tersebut  harus meninggalkan kampung bena.Puas melihat –lihat keunikan desa bena, saya putuskan untuk mengahiri kunjungan saya di desa yang sangat membuat saya begitu nyaman ini. Tujuan kami selanjutnya adalah kampung adat wogo. Kampung adat wogo  letaknya cukup jauh dari kampung adat bena. Dari kampung adat bena terdapat 2 jalan menuju kampung adat wogo, yaitu dengan kembali menyusuri jalan yang tadi kita lewati  (jalan ini sedikit memutar) atau menempuh sebuah jalan baru (sebuah persimpangan jalan sebelum kami sampai di kampung  bena). Ahirnya dengan sedikit rasa ragu, kami  memutuskan untuk menempuh jalan baru menuju wogo, selain ingin menyaksikan ke indahan / sesuatu yang akan kami lihat di jalan baru ini, kami juga mendapat info kalau jalan ini lebih dekat ketimbang harus memutar arah menuju jalan yang pertama (info dari pak fredy). FYI: Dari desa bena berjalanlah ke arah menuju bajawa, tapi nanti jangan berbelok ke arah kiri saat berada di sebuah pertigaan, melainkan tetap lurus saja sampai nanti bertemu sebuah jalan raya dan berbeloklah ke arah kanan.

Manu Lalu
Dari kampung bena kami memacu laju motor kami, melewati hutan dan semak belukar di sisi – sisi jalan, sampai ahirnya kami hentikan laju motor di sebuah gerbang bernama “Manu Lalu Panorama”. Tempat ini adalah sebuah view poin yang mengarak ke lembah dan deretan pegunungan lain (termasuk gunung inerie). Di sini terlihat desa adat bena yang terdapat di kaki gunung inerie yang nampak jelas memanjang menyerupai sebuah kapal. Untuk memasuki kawasan ini setiap orang di kenakan tarif 2k, namun hari itu tak ada orang yang berjaga jadi kami bisa bebas masuk dengan gratis. Tak hanya kampung bena saja yang terlihat di sini, tapi juga terlihat jelas beberapa desa tradisional lain (entah apa namanya dan bagai mana cara ke sana).
Wogo
Puas menikmati pemandangan di sini, kami melanjutkan perjalanan kembali, motor kami pacu semakin kencang karean waktu semakin siang (siang nanti kami akan melakukan perjalanan ke riung denga bis gemini yang hanya beroprasi sehari sekali yaitu sekitar pukul 12 siang dari bajawa). Setelah berkendara selama satu jam, kami sampai di desa adat wogo di daerah mataloko dan di sini kami bertemu dengan jeje,andro dan niuk (teman yang akan ke riung juga). Desa adat wogo sangat mudah di jangkau dari bajawa dengan kendaraan umum (angkot), karena desa adat ini berjarak sekitar 500 meter dari pinggir jalan raya. Tapi saya sangat tidak merekomendasikan desa adat ini, karena desa ini sudah terlalu moderen untuk di katakan sebuah desa adat, selain terdapat aliran listrik (tiang  listrik dan kabel –kabelnya memperburuk view kampung ini karena  sangat kontras dengan bangunan tradisional di sini yang terbuat dari kayu dan ilalang kering). Selain itu, warga kampung  ini juga sangat matrealistis,hal ini nampak jelas saat mereka meminta kami mengisi buku tamu (terkesan kami harus membayar dalam jumlah tertentu meski mereka tak menyebutkan jumlahnya, sangat jauh berbeda dengan kampung Bena), hal ini membuat saya sangat tak nyaman. Di tambah lagi saat ada ibu yang terkesan memaksa  kami membeli kerajina  tangan yang dia buat, karena  kami sudah menyentuhnya dan melihat proses pembuatanya (padahal ibu itu yang mengajak kami melihat pembuatannya dan menyodorkan barang – barang yang dia buat). Jadi jangan sekali – kali menyentuh / menawar kerajinan yang mereka buat, karena anda akan di paksa untuk membelinya, dan harganya sangat tidak wajar. Kami tak terlalu lama di sini karena sudah  merasa sangat tidak nyaman dan kampung di sini juga tak terlalu menarik buat saya (kabel dan tiang listriknya sangat mengganggu). Kami pun kembali ke bajawa dan menunggu bis yang akan ke riung.

4 komentar:

  1. Sebuah catatan perjalanan yang menakjubkan, informative dan natural, Salam Cinta Alam Indonesia,.... s'moga suatu saat kita bisa berkolaborasi untuk menikmati Indahnya Indonesia dengan backpacker style tentunya.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank dah mampir :)
      amin semoga bisa jalan2 brg

      Hapus
  2. Cantik kampung nya .....

    BalasHapus
  3. (y)
    Panorama yang indah, keasliannya masih terpancar itulah kampung Bena.
    Semoga tetap terjaga dan terlestarikan keasliannya,
    Amin.

    BalasHapus