Kamis, 10 November 2011

Padang Bay : di Kejar Preman dan di Tolak Supir Truk


Sekitar pukul 9 pagi, saya sudah rapi dan siap berangkat menuju pelabuhan lembar. Awalnya saya akan di antar bang odra ke pangkalan angkot yang menuju pelabuhan lembar. Tapi karena ke baikan hati bang odra dan atas saran mba yanti,saya ahirnya di antar sampai pelabuhan lembar menggunakan motor, tahank mba yanti dan bang odra.
Bang odra mengantar saya sampai di depan pintu masuk pelabuhan (konter untuk membeli tiket). Di sini saya di tawari tiket oleh beberapa calao yang sedikit memaksa,tapi tetap saya acuhkan. Calo di sini hebat sekali,nawarinya terang-terangan,bahkan nawarin di depan loket,haha.  Namun berdasarkan  cerita seorang teman yang menceritakan bahwa tiket-tiket yang di jual calo itu merupakan tiket bekas yang sudah di sobek dan di sambung lagi oleh para calo,jadi jangan beli tiket dari mereka apaun yang terjadi,takutnya nanti malah gak boleh naik kapal .
pelabuhan Lembar
Setelah membeli tiket fery seharga 36k,saya berjalan masuk pelabuhan dan mendekat ke dermaga. Kebetulan saat itu fery yang akan saya tumpangi sudah merapat ke dermaga. Sebelum naik kapal,saya sempatkan dulu membeli camilan dan air mineral,karena harga di atas kapal cukup mahal. Sekitar 30 menit menunggu di atas kapal,kapal pun mulai bergerak meninggalkan pelabuhan lembar. Selamat tinggal lombok yang penuh pesona.Selamat tingal bang odra,mba yanti,dan bang dion yang sudah begitu baik menampung saya selama di lombok,kebaikan kalian tak akan saya lupakan. :)
Siang itu langit sangat cerah,selat lombok juga tak terlalu berombak. Suasanan kapal saat itu cukup sepi,hanya ada beberapa bule saja di kapal ini,selebihnya orang lokal. Tak ada banyak hal yang bisa di lakukan di sini,selain tidur tentunya,hehe. Setelah terombang ambing selama sekitar 5 jam,saya sudah tiba di pelabuhan padang bay, bali. Teringat dengan cerita teman mengenai  calo-calo (lebih mirip preman) angkutan yang akan memaksa untuk menaiki mobil tertentu dengan tarif tinggi tentunya.
suasanan di dalam kapal fery
Saat kapal masih mengatur diri untuk merapat,Saya mulai turun ke lantai bawah tempat mobil-mobil truk yang membawa berbagai macam barang komudit. Semua truk-truk ini hanya numpang lewat saja di bali dan melanjutkan perjalanan ke jawa. Membaca beberapa tips dari temen-temen yang sudah pernah ada di situasi yang  sekarang sedang  saya alami. Saya mulai mendekati beberapa supir truk untuk ikut  menumpang  sampai denpasar. Satu demi satu supir truk saya datangi,berharap ada supir yang mengijinkan saya ikut menumpang. Namun setelah berkeliling ke semua supir truk, tak ada satu pun truk yang bisa saya tumpangi. Semunya menolak dengan berbagai alasan,dari mulai truknya sudah di boking orang lain (boking di sini  maksudnya sudah ada orang lain yang juga akan menumpang truknya),truknya tidak akan segera berangkat (truknya mau istirahat/bermalam dulu di pelabuhan),dan ada juga yang diam tidak menjawab dan mengacuhkan saya (sopir yang kayak gini nih yang bikin dongkol,haha). Tips: buat kamu yang ingin menumpang truk,usahakan untuk mencari tumpangan saat masih berada di pelabuhan lembar. Karena bayak orang yang juga mengincar truk sebagai angkutan dari pelabuhan padang bay. Hal ini terjadi karena buruknya trasportasi umum di bali. Dan jika kalian ketahuan calo saat naik truk,biasanya calo akan memaksa kalian turun dan sopir truk tak punya kuasa apa pun untuk menolaknya. 
pantai padang bay
Dengan langkah berat,saya keluar dari kapal. Otak saya terus berputar bagai mana cara menuju denpasar (tanpa calo  tentunya). Selepas meninggalkan kapal ada pemeriksaan KTP  buat semua orang yang baru saja turun dari kapal (hal ini juga berlaku di pelabuhan gili manuk,intinya kalau masuk wilayah bali harus punya KTP yang masih berlaku). Begitu keluar dari pelabuhan,ada beberapa calo yang menawarkan jasanya. Namun saya menolaknya dengan alasan saya di jemput seorang teman. Sembari terus berpikir bagai manan caranya menuju denpasar,saya terus berjalan meninggalkan pelabuhan. Rencana awal untuk mengexsplor pantai padang bay pun saya batalkan karena saya sibuk memikirkan bagai manan ke denpasar. Sekitar 200 m dari pelabuhan,ada seorang calo merangkap jadi supir yang terus memepet dan menanyai tujuan  saya,namun lagi-lagi saya berbohong bahwa saya akan di jemput seorang teman. Tak terlalu lama berjalan,ada sebuah angkot yang tiba-tiba berhenti dan menanyakan tujuan saya,setelah menyebut ubung (denpasar), si sopir mengajak saya naik. Saat mobil angkot baru berjalan beberapa meter,angkot ini di paksa berhenti oleh preman alias calo yang merangkap supir yang tadi memepet terus saya. Saya di suruh turun dari angkot itu,namun saya tidak mau. Si preman itu mengatakan bahwa angkot yang saya tumpang cuma  sampai klungkung ,namun saya tidak mempedulikan preman itu dan tetap duduk di angkot itu. Sampai ahirnya preman tetap memaksa saya turun,dan si sopir angkot pun  mempersilahkan saya turun. Tapi sebelum turun dan berganti mobil, saya menanyakan tarifnya. Si preman meminta 50k,namun saya tidak mau,saya akan turun jika tarifnya 30k. Dan ahirnya si preman meng-iyakan di harga 30k sampai denpasar,tapi saya di larang membicarakan tentang tarif selama di dalam mobilnya nanti,karena di dalam mobil kery sudah ada dua orang suami istri yang di minta bayaran 50k/ orang untuk sampai  sanur.
salah satu pantai yang ada di padang bay

Perjalanan menuju denpasar di tempuh dengan rasa tegang ,karena si sopir alias preman alias calo terus memasang tampang cemberut. Sebelum sampai di ubung,mobil ini mengantar dulu orang ke sanur, baru setelah itu mengantarkan saya ke terminal ubung. Nah perjalanan dari sanur ke ubung lebih menegangkan lagi,karena ini supir terus menanyai saya,mulai dari asal usul,keperluan di bali,sampai tadi kenapa jalan terus ke depan dan berkata bohong padanya. Dengan kalimat terbata-bata saya menjelaskan semuanya,termasuk alasan saya bohong. Saat itu saya berkata padanya bahwa saya di beri tahu seorang teman bahwa ada bis ke ubung jika saya terus berjalan ke depan. Di ahir pembicaraan,si sopir itu menegaskan bahwa tidak ada mobil bis dari padang bay ke ubung,dan satu-satunya transportasi dari padang bay ya mobil ini (baca:mobil carteran).
Dan alhamdulilah,terminal ubung sudah di depan mata sehingga saya bisa keluar dari situasi yang kurang nyaman  ini. Sesampainya di terminal ubung,saya di jemput bang toni dan di antarkan ke kosanya. Huahhh,,benar-benar hari yang menegangkan,,hahah
Fyi ; jika saya sarankan,lebih baik kalian mengunakan jasa shutel bis praman dari senggigi/mataram menuju bali (kuta),lebih aman dan nyaman meski harus merogoh kocek lebih banyak(sekitar 160k).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar